Film kartun favorit,,enggak pernah bosen meski udah nonton episode yang sama berulang-ulang.. dibalik ceritanya pasti ada makna yang positif..
Sponge Bob Square Pants
Menyanyikan Lagu Indonesia Raya Sebelum Nonton Darah Garuda
Indonesia Raja, Merdeka Merdeka,
Tanahkoe', Neg'rikoe,Jang Koetjinta,
Indonesia Raja, Merdeka Merdeka,
Hidoeplah Indonesia Raja...
Rasa nasionalisme bergema di sebuah studio bioskop XXI Epicentrum malam itu pada tanggal 2 Agustus 2010. Bioskop yang terletak di Rasuna Said, Kuningan Jakarta tersebut dipenuhi para undangan untuk menonton premiere film Darah Garuda yakni film kedua dari trilogi Merah Putih. Lagu Indonesia Raya dinyanyikan dengan hikmat dalam 3 versi oleh seluruh undangan yang hadir dengan dipimpin oleh paduan suara.
Film Darah Garuda merupakan karya margate Production dan Media Desa. Film ini bekerjasama dengan para ahli pembuat film-film Box Office serta didukung pula oleh tim gegana Polri. Pantas saja dengan kerjasama Indonesia dengan Luar Negeri, membuat adegan-adegan perang yang diperankan oleh Lukman Sardi yang berperan sebagai Amir, Darius Sinathrya sebagai Marius, Donny Alamsyah sebagai Tomas, T. Rifnu Wikana sebagai Dayan, Rahayu Saraswati sebagai Senja, Astri Nurdin Sebagai Melati, Atiqah Hasiholan sebagai Lastri, Ario Bayu sebagai Sersan Yanto, Rudy Wowor sebagai Van Gaartner, dan Alex Komang sebagai Kyai, menjadi terlihat lebih real seperti perang sungguhan. Ledakan-ledakan api dan bunyi tembakan baku tembak antara pihak Indonesia melawan Belanda tersebut juga menjadi lebih heroik. Sungguh kemajuan pesat film Indonesia yang membanggakan.
Film ini bertujuan untuk mengenang perjuangan pahlawan bangsa kita, angkatan 45 baik yang gugur maupun yang masih hidup sampai sekarang", ujar Hasyim Joyohadikusumo selaku eksekutif Produser film Darah Garuda.
Salut untuk seluruh kru yang terlibat dalam pembuatan film ini. Semoga insan film Indonesia terus maju dalam membuat film yang semakin berkualitas dan mendidik Bangsa Indonesia.
Review Film : Hachiko, Kesetiaan Seekor Anjing yang Begitu Dalam


Hachi! Hachi!
Panggil Parker setiap memanggil anjingnya yang diberi nama hachiko....
film yang diadaptasi dari kisah nyata di Jepang ini memang sangat mengesankan. Menggambarkan kesetiaan si anjing terhadap majikannya..
Sebuah peristiwa yang dialami si anjing yang tersesat dari sebuah bagasi pesawat terbang yang akhirnya membawa 'little puppy' tersebut ke sebuah lorong-lorong di stasiun kereta api. Yang pada akhirnya menjadi sebuah awal pertemuannya dengan Parker, si pemeran utama dalam film ini, Richard Gere.
Dengan kekuatan peran Parker dengan si anjing yang dimainkan dengan sangat piawai ini menjadikan film ini semakin dramatis dan menyentuh. Seakan-akan persahabatan yang terjalin antara Parker dan Hachi menggambarkan benar bahwa anjing merupakan hewan yang memiliki loyalitas tinggi terhadap majikannya.
Mengulik sedikit cerita film ini, suatu pagi seperti biasa Parker hendak berangkat ke kampus. Tapi lain dari pagi yang biasanya, hachi ingin ikut mengantarkan profesor ini ke stasiun kereta. Pada awalnya, Parker tidak membiarkan Hachi mengantarkannya ke stasiun kereta api. Hachi disuruhnya pulang ke rumah. Tapi karena Parker ragu, akhirnya Parker justru pulang mengantarkan Hachi pulang. Barulah ia berangkat kembali ke stasiun.
Tetapi, pagi itu hanya terjadi sekali. Karena pada akhirnya Hachi selalu bisa pulang sendiri ke rumah. Setiap kali ia mengantar Parker ke stasiun setiap pagi dan menjemput setiap pukul 5 sore di depan stasiun untuk menjemput Parker..
Selalu ada canda diantara mereka setiap mereka hendak berpisah maupun bertemu di sore harinya. Parker selalu memberi pujian pada Hachi: What a good boy! Come On Hachi! Good Boy! Hachi pun selalu seraya menyergap tubuh Parker setiap ia menampankkan dirinya di depan gerbang stasiun usai bekerja.
Hingga pada suatu pagi, ketika Parker hendak berangkat ke kantor, Hachi enggan untuk mengantarnya ke stasiun. Dia hanya menggonggong seperti menyatakan tidak rela Parker pergi ke kantor.
Dan ternyata benar, mungkin inilah firasat hebat yang dimiliki naluri Hachi, karena semenjak saat itu, Parker tidak pernah kembali lagi...
Parker mendapat serangan jantung saat mengajar mahasiswa-mahasiswanya di kampus. Yang meregang nyawanya dan membuat mereka sekeluarga bersedih atas kepergian Parker. Tak terkecuali bagi Hachi.
Hachi kini murung. Sedih. Dan terus menunggu Parker di depan stasiun kereta api itu. Menunggu setiap pagi dan kembali setiap sore.
Dan Parker tak kunjung datang..
Tetapi Hachi tetap setia menunggu.....
Menunggu setiap langkah orang-orang yang membuka pintu gerbang utama stasiun. Terus menatap penuh harap melihat senyum Parker dan berharap mendengar teriakan memanggil namanya:
HACHI!!
Sang Pemimpi The Movie, Lanjutkan Kesuksesan Laskar Pelangi Kah?


Rasa penasaran saya langsung meledak, ketika saya mendengar sekuel film laskar pelangi sudah keluar. Yang sesuai dengan novel buah karya Andea Hirata yang berjudul Sang Pemimpi. Apalagi, saya telah membaca sang pemimpi sebelum saya membaca buku laskar pelangi.
Saya ingat akan perjuangan Ikal yang akhirnya mendapatkan mimpinya untuk sekolah ke Perancis...
Classic...
Orang jauh, orang ga beruntung, lalu berusaha dengan segala jerih payahnya, dan di ending cerita, dia dapat meraih apa yang dia inginkan,,,
It's too classic..
kenapa saya bisa bilang begitu? Coba simak,... banyak sekali legenda atau cerita baik fiktif maupun non fiktif yang bercerita tentang perjuangan seorang yang kurang beruntung seperti itu, seperti di kisahkan andrea dalam bukunya.
Tapi film ini cukup inspiratif. Saya yakin semua orang yang menontonnya akan berpikir begini: (setidaknya mungkin sama seperti yang saya pikirkan ketika itu)
"Gw pengen banget deh bisa dapet ini..atau gw pengen banget deh bisa ngapain..."
"Gw yakin gw bisa mendapat mimpi itu,,buktinya orang yang tidak seberuntung gw aja bisa, kenapa gw ga?"
(hei pembaca atau penonton, tidakkah kalian memiliki pikiran yang sama??" hehe
Sayang, ada beberapa kekurangan yang membuat film ini sedikit kehilangan gregetnya. Namun, secara ide sih cukup bagus, tapi alurnya yang dibuat lambat, menjadikan film ini sedikit membosankan di awal-awal..
Tapi, karya ini adalah karya yang membanggakan. Karena Tahun lalu, Laskar Pelangi ditonton lebih dari 4 juta penonton dan memperoleh lima penghargaan antara lain film terfavorit dalam Indonesian Movie Awards 2009.
Bagaimana dengan sekuelnya ini?
Kuantitas Versus Kualitas Film Indonesia
Selama beberapa tahun terakhir semakin banyak film karya sineas Indonesia mewarnai dunia perfilman Indonesia. Dimulai dari satu film, lalu memacu para kreator film lainnya untuk mencoba unjuk gigi membuat film baru. Perfilman Indonesia yang pernah mengalami “krisis” lalu sempat mengalami vakum, telah bangkit dan membuktikan eksistensi dirinya.
Berbicara film, pasti berbicara genre atau tema pokok sebuah film. Bila kita lihat, perkembangan film Indonesia bergerak dalam beberapa genre saja. Bahkan mayoritas film Indonesia hanya seputar, cinta, cinta, dan cinta atau genre lain seperti horor dan komedi.
Apa iya, tema film hanya berdasarkan cinta, horor, atau komedi? Bukankah banyak masalah atau tema yang dapat diangkat dalam sebuah film selain genre tersebut di atas?
Tidak dipungkiri, secara kuantitas, film Indonesia sudah sangat banyak jumlahnya. Bahkan apabila kita berkunjung ke bioskop, hampir semua film yang ditayangkan adalah film Indonesia. Coba bandingkan dulu, sekitar 5-4 tahun yang lalu?
Secara implisit, hal ini merupakan kemajuan pesat yang dapat diancungkan jempol!Ini membuktikan bahwa para sineas Indonesia telah “bangun” kembali dan bekerja keras untuk berkarya demi memajukan perfilman Indonesia.
Tetapi, apakah film-film tersebut telah memiliki tujuan yang “mulia”?atau hanya sekedar kepentingan komersil semata? Karena ironisnya, banyak film yang hanya “bombastis” pada judulnya saja, untuk menarik perhatian penonton. Hal ini dilakukan agar film tersebut laku keras di pasaran.
Contoh saja film yang berjudul “Maaf Saya Menghamili Istri Anda”, Extra Large”, “ML (Mau Lagi), dan masih banyak lagi. Judul-judul film ini dibuat sedemikian rupa agar para penonton tertarik untuk membeli tiket kemudian menontonnya. Padahal, terkadang isi ceritanya malah jauh dari kesan “wah” yang ingin ditampilkan dalam judul.
Apalagi, film-film tersebut justru hanya menawarkan rasa “vulgar” yang sangat ditonjolkan oleh sang sutradara, yang ditampilkan dalam adegan-adegan “tidak penting” yang hanya memamerkan sex.
Tentu saja, langsung maupun tidak langsung, film berjenis seperti itu dapat memberikan efek negatif bagi penontonnya. Memang, dalam poster film telah dicantumkan “hanya untuk dewasa atau untuk 18 tahun ke atas”. Tapi, apakah ketika anak di bawah umur dilarang masuk studio bioskop? Atau apakah ada pemeriksaaan kartu tanda pengenal terlebih dahulu?
Ironis memang, tetapi, kita sebagai penikmat film “mungkin” hanya bisa menggelengkan kepala atau protes akan hal ini. Dan pada akhirnya harus ada “kaum” yang melakukan “sesuatu” terhadap masalah ini. Apakah lembaga sensor film, para sineas film, atau para kritikus film?



.jpg)



