Tampilkan postingan dengan label jalan-jalan yuk. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jalan-jalan yuk. Tampilkan semua postingan

Telusuri Kota "Nyeni" Yogyakarta!

Share

Jalan-jalan di Jogja ga pernah ada abisnya. Karena di kota ini kita bisa ngelakuin banyak hal yang seru-seru. Jalan-jalan di Malioboro , naik becak keliling Jogja dan ngeliat penduduk sekitar. Saya disana menginap di hotel Amaris di Jl. Diponegoro. Di depan hotel tersedia becak untuk jalan-jalan keliling Jogja. Yul ikutin cerita serunya!


Ini saya lagi naik becak di depan jalan Malioboro. Disini orang-orang, wisatawan maupun penduduk biasa belanja. baik oleh-oleh batik, atau sekedar jalan-jalan.





Lalu sempatin juga ke keraton Jogja. Disini kalian bisa melihat keraton tempat pemerintahan Jogja berada dan segala peninggalan-peninggalan yang menarik untuk disimak. Banyak pula wisatawan asing yang mengunjungi keraton ini. Disepanjang jalannya juga terdapat pernak-pernik dan batik Jogja. Tapi kalau belanja disini, tipsnya : harus pinter nawar! dan bertahan di harga tawaran kita! hehe


 Saat saya ke keraton ini, juga lagi ada upacara adat. Katanya, Ibu-ibu ini lagi bawain makanan untuk orang di dalam keraton itu.


Nah kalau malam hari, ayo menuju alun-alun kota Jogja! Banyak banget odong-odong warna-warni yang super lucu dan kreatif! Tarifnya per 1 keliling Rp.30.000 untuk yang tingkat, dan Rp.15.000 untuk odong-odong yang biasa (tidak tingkat). Bahkan, banyak yang odong-odongnya pakai musik soundsystem dan ada video playernya segala. Semakin bagus, semakin mahal tarifnya.
Naik odong-odong ini benar-benar seru! Sembari keliling alun-alun, banyak keluarga yang menghabiskan waktu mereka bermain di sini.

Tak sampai disitu, salah satu tempat yang wajib dikunjungi adalah Pantai Parangtritis. Pantainya sangat bersih dan nyaman buat rekreasi bareng keluarga. Sunsetnya juga keren banget loh! Disini juga ada permainan ATV, buat kamu yang ingin bermain di sepanjang pantai. Tarifnya lumayan mahal Rp.100.000 untuk setengah jam saja.



Sunset disini bagus! Apalagi sambil minum es kelapa muda ditemani semilir angin dan suara deburan ombak yang damai.. Pasti suatu saat anda ingin kembali lagi ke kota ini. Demikian juga saya.











Common Room, but not common place

Share

Minggu lalu, salah satu tempat yang saya kunjungi di Bandung adalah "Common Room". Sebenarnya ga asing dengan namanya, tapi saya baru mengunjunginya sekarang. Kata seorang teman, tempat ini merupakan tempat "kongkow"nya anak-anak komunitas di Bandung. Obrol-obrol saya dengan 2 orang di sana juga begitu.
Tapi karena lagi libur, katanya lagi sepi. Tapi biasanya memang suka banyak anak-anak yang nongkrong disana.



Di sana ada semacam galeri foto-foto, ada distro, dan tempat makan. Sayang banget hari itu ga ada event. Padahal saya ingin melihat keramaian di sana. Siapa tau bisa ikutan buat event :)

Karena nampaknya asik, kapan-kapan saya mau kesini lagi. Dan kamu yang pengen liat-liat, silahkan mampir di Jl. Kyai Gede, di dekat Dipati Ukur ya..

Zoe, Library cafe di bandung

Share

Library cafe asik buat baca di Bandung, cukup banyak. Ini dia salahsatunya! Zoe! Coba aja kamu berkunjung kesana. Selain buku-buku yang bisa dibaca disana, kalian juga bisa makan di cafenya sambil baca...



Tahu Gejrot Branded di Bandung

Share


nyummy..

"Cukup ga sepuluh ribu" niat saya membayar 2 porsi tahu gejrot
"Engga lah. Ini tahu gejrot branded"

Benar saja, saya membayar Rp.16.000 untuk 2 porsi tahu gejrot enak itu. Agak pedas, disiram cabai dan bumbu-bumbu khas tahu gejrot yang mantap. Memang agak mahal untuk ukuran tahu gejrot, tapi pasti ga akan nyesel makan disini. Karena tahunya enak dan bumbunya juga pas. Cocok buat yang mau ngemil-ngemil dan yang suka pedas.
Jalan-jalan ke Bandung? mampir deh cari tahu gejrot ini!! lokasinya di plaza Ahmad Yani, di depan pintu masuknya.

Eco Park Ancol

Share

Istilah "ECO" sering banget kita temui dan tak asing lagi terdengar di telinga kita, semenjak adanya problem global warming di gembor-gemborkan seluruh dunia. Mulai dari "ECO fun bike" "ECO living", ECO, GREEN bla-bla...."

ECO, sebenarnya apa sih sebenarnya kata ini? eco-, a prefix mostly relating to ecological or environmental terms (sumber wikipedia)

Salah satunya, ECO park Ancol. Di sini, anda bisa menikmati taman luas hamparan rumput, ada track khusus untuk sepeda. Asik banget buat keluarga yang ingin berolahraga sambil jalan-jalan. 
tempat sampah organik - non organik dan jalur sepeda


jalur wisata air


perahu
 Bisa juga kasih makan ikan mas loh..
Eco Park Ancol, bisa jadi salah satu tujuan liburan kamu dengan keluarga. Yang ingin melepas penat dengan bisingnya kota. Semoga ada banyak taman-taman seperti ini di Jakarta ya.. :) 

Komunitas Musik Taman Suropati

Share

Jika anda tengah berkunjung ke daerah Menteng, Jakarta Pusat, tak ada salahnya jika anda mampir ke Taman Surapati yang terletak di kawasan elit tersebut. Mengenai taman Surapati ini, anda jangan membayangkan akan mendapati taman yang kotor berserakan sampah karena taman ini sangat dijaga kebersihannya dan ditanami oleh pohon-pohon perdu sehingga menjadikan udara di sekitarnya menjadi sejuk.

Sembari menikmati semilirnya angin dan suara gemericik air mancur di sana, anda juga disuguhkan alunan musik yang dimainkan oleh para anggota komunitas musik yang berlatih alat musik biola di sana.



Adalah komunitas musik bernama Kota Seni (Komunitas Taman Seni Indonesia), yang berlatih di taman tersebut, setiap hari minggu Pk 14.00-16.00 WIB. Komunitas ini terdiri dari berbagai kalangan dan usia, dari pemain mahir maupun yang pemain amatir masih belajar dari awal.

Tak perlu malu atau sungkan untuk berlatih di sana, karena mereka akan dibagi per kelompok, yakni dikelompokkan berdasarkan yang masih belajar solmisasi, yang sedang belajar not balok, hingga yang sudah senior dan sangat mahir berkolaborasi dengan alat musik lain, seperti gitar dan saxophone.


Nah, jika anda punya cara "lain" untuk menikmati musik, tak ada salahnya anda berkunjung ke Taman Suropati ini. Atau sekalian saja bergabung dengan komunitas yang ada di sana!

'Nongkrong' Asik di Taman Ayodia

Share

Cari tempat asik untuk sekedar nongkrong di Jakarta memang identik di mal, coffee shop atau tempat makan. Banyak yang bisa dilakukan: meeting serius urusan bisnis, kumpul bareng teman-teman, jalan bareng pacar, atau sekedar wi-fi an.

Tapi kalau sudah bosan dengan tempat-tempat itu, Taman kota juga bisa jadi pilihan untuk tempat nongkrong. Memang sulit menemukan taman kota di Jakarta. Seakan Jakarta sudah sumpek dengan kendaraan, macet di mana-mana dan memang taman kota Jakarta langka jumlahnya!

Taman Ayodia di daerah Barito, Jakarta Selatan, mungkin bisa jadi salah satunya. Taman yang berdiri di lahan seluas 7.500 meter persegi di sebuah lahan bekas pasar ikan hias ini, terdapat danau Di tengahnya yang seluas 1.500 meter persegi.




Masyarakat sekitar atau pengguna jalan juga bisa mampir untuk mencicipi kuliner yang dijajakan di sekeliling taman yang berbentuk lingkaran ini. Mulai dari tahu gejrot, baso, nasi goreng, minuman, hingga harum manis yang sudah langka ditemukan di mana-mana.Bagi yang mau internetan juga bisa memanfaatkan fasilitas internet nirkabel yang dipasang di area taman.








Jakarta memang butuh banyak tempat seperti ini. Semoga saja Taman Ayodia yang lain dibangun lagi untuk menyegarkan Jakarta.

Bandung...oh..Bandung...

Share






Sekitar sebulan enggak ke Bandung, ternyata banyak perubahan disana-sini, terutama di kampus.. kampus jadi lebih rapi, bersih, dan hijau...banyak pohon2 baru, banyak tempat baru..
Pokoknya jadi lebih enak diliat..
Trus mampir juga ke kosan tercinta "Lokapala". Di sini ga ada banyak perubahan, gitu2 aja...

Pasir Muncang, Kami Datang!

Share






Berbagi kisah dan pengalaman. Berbicara kejadian-kejadian lucu. Belajar sesuatu serta saling menularkan senyum, tawa, dan guyonan untuk setiap orang di dalamnya: dalam sebuah keluarga, selama 2 hari bersama mereka, di Pasir Muncang, Sukabumi.
Pekan lalu, saya berserta keluarga meluangkan waktu untuk pergi berlibur akhir pekan di Pasir Muncang, Sukabumi. Namanya juga liburan, pasti identik dengan kegiatan bersenang-senang, serta kegiatan untuk melepas lelah dari kerutinitasan sehari-hari. Iya, ternyata tempat ini berhasil ‘mengobati’ penatnya otak, rasa bosan dengan tugas kuliah, keruwetan kota Bandung, atau panasnya kota Jakarta.
Kami menginap di sebuah rumah peristirahatan yang sangat nyaman. Selain lingkungannya yang hijau dan asri, tempat ini juga menyimpan cerita lain di balik kemegahannya. Yakni, gemericik air sungai yang sejajar dengan halaman belakang rumah, bentangan sawah-sawah, dengan desa yang cukup dipadati penduduknya. Selain itu, udaranya yang sejuk menambah nikmatnya suasana sepi dan jauh dari kebisingan kota.


Sungai itu bernama sungai Cisadane. Sungai ini beraliran cukup deras. Hanya saja airnya tidak jernih, namun cukup bersih jika dibandingkan dengan sungai Ciliwung! Saya jumpai anak-anak kecil mandi di sungai ini. Mereka bermain air dan mencoba melawan derasnya air sungai. Tak peduli dengan keruhnya air. Mereka hanya menikmati sambil tertawa-tawa ketika bermain air.

Kami juga berkeliling di desa belakang rumah. Jalannya naik-turun, dibentangkan oleh sawah dan gang-gang rumah penduduk yang sempit. Aktivitas penduduknya cukup ramai, banyak yang berlalu lalang dengan keramahan mereka menyapa kami ketika melintasi mereka.
Sepanjang perjalanan mengelilingi desa, ada saja yang terjadi. Ada yang mengeluh lelah karena capek menapaki jalan yang menanjak, ada yang bergosip antar ibu-ibu seputar pacar anaknya, rencana resepsi pernikahan segala, ada yang pengen difoto, dan ada yang sibuk motret-motret.

Yang menarik, di lingkungan pedesaan itu juga banyak kampanye visual. Banyak sekali bendera-bendera partai yang dipasang di tiang-tiang dan atap-atap rumah penduduk. Memang ya, perhelatan Pemilu juga menjalar ke semua daerah, termasuk daerah terpencil sekalipun.
Nah bagian cerita yang paling seru adalah, kami rafting atau arum jeram di sungai Cisadane. Kami ber-rafting ria dengan menggunakan jasa mainairrafting.
Meskipun awalnya para kaum ibu takut dan tidak berani ikutan, tapi karena penasaran dan sedikit paksaan dari anak-anaknya, akhirnya semua ikut, tanpa terkecuali. Sehingga, kita menaiki 2 buah perahu dengan isi 6 orang/perahu.
Air sungai Cisadane cukup deras. Apalagi saat jeram-jeramnya banyak, dan berbatu-batu. Sehingga membuat permainan semakin seru. Batu-batu, dahan, ranting, menjadi tantangan saat mendayung perahu. Jika ada deras yang tajam dan memacu adrenalin, kami berteriak dengan hebohnya. Namun bagi saya dan papa, sungai itu kurang terjal, sehingga kurang menantang, apalagi papa saya berpengalaman naik perahu saat ia di Makassar dulu. Karena kurang menantangnya perjalanan, kami yang kebetulan duduk di depan, berulang kali ingin menabrakkan perahu ke batu, bukan justru menghindar. Namun tetap saja tidak kebalik perahunya. Nah yang menggelikan adalah, saat tiba-tiba papa saya pura-pura jatuh dengan menjatuhkan diri sendiri, tapi kakinya disangkutkan ke tali perahu! Yang kemudian membuat orang-orang panik. Usainya perjalanan, saya dan papa tertawa-tawa saja mengingat kejadian tadi, karena padahal dia cuma pura-pura!hahaha.
Perjalanan memakan waktu sekitar 2 jam. Kami berangkat dari Pasir Muncang dan berakhir di Caringin. Tapi setengah perjalanan, kami beristirahat di rest point. Kemudian menikmati pisang goreng dan combro dengan hangatnya segelas bajigur yang telah disediakan.
Lalu, karena merasa kurang basah bajunya, saya sengaja membasahkan diri dengan menceburkan diri ke sungai. Karena dari tadi sepanjang perjalanan, saya ingin nyebur, dilarang oleh pemandunya!
Sesampainya kami di tempat akhir perjalanan rafting, kami diantar kembali ke rumah peristirahatan dengan mobil kap terbuka. Ini lucunya, kami seperti anak kambing kecebur got, keluar dari pasar induk, melewati jalan besar! Sungguh permainan yang seru!

Curug Cimahi, Tempat Enak Untuk ‘lari’ Dari Bandung

Share

Kota Bandung, kota yang konon sejuk, bersih, dingin, dan asri, kini telah ‘disulap’ menjadi kota metropolitan. Banyak perubahan di sana-sini yang menjadikan kota paris van java tersebut menjadi seperti sekarang. Kota yang dirubah oleh banyak pihak berkepentingan bisnis yang mencoba keberuntungan mengadu nasib di kota yang dulu disebut “Kota Kembang” ini. Tapi apa Bandung masih “ber-kembang”?
Jawabannya mungkin tidak. Bandung sudah tidak banyak memiliki kembang. Rangkaian kembang Bandung sudah berubah menjadi beton-beton bangunan, berupa kantor, restoran, kafe, factory outlet, distro, mall, hotel, dan tembok-tembok yang disemproti piloks-piloks karya grafiti. Nah, banyaknya ‘ornamen-ornamen’ yang menghiasi kota Bandung tersebut yang mungkin membuat saya dan anda penghuni Bandung atau mereka yang hanya sekedar bepergian ke Bandung, merasa rindu atas sejuknya kota Bandung, cuaca dingin yang masuk ke dalam kamar saat jendela dibuka, rindu dengan jalanan yang sepi, rindu Bandung yang ramah lingkungan, pokoknya rindu Bandung yang dulu.
Rasa rindu tersebut mungkin memicu otak untuk berpikir mencari tempat yang berbeda. Tempat yang jauh dari keramaian, jauh dari sesak orang kota. Atau mencari tempat yang hijau, asri, dan bisa dijadikan alternatif tempat rekreasi atau sekedar melepas kepenatan rutinitas kehidupan.
Dan hal itulah yang saya rasakan. Oleh karena itu, ketika saya ingin pergi, tapi entah kemana, saya hanya memberi klu kepada seorang teman:
”Gw pengen pergi ke tempat yang enak buat nongkrong, tapi bukan mall, bisa ngeliat pemandangan bagus,, atau sambil ngeliat orang maen basket kek, dan sambil makan es krim. Ada ide ga?”
Sementara saya berpikir palingan ujung-ujungnya ke gasibu, Cilaki, Sabuga atau Dago sambil makan es krim conello, tapi teman saya ini merekomendasikan sebuah tempat bernama Curug Cimahi. Dan pada akhirnya, kita nekat ke sana, meski tanpa persiapan sama sekali.(Maksudnya, persiapan jaket, tas, atau sepatu bahkan baju ganti!).
Kenapa baju ganti? Karena kita datang ke air terjun! Yang notabene adalah tempat yang pasti basah. Benar saja, karena musim hujan, airnya mengalir dengan sangat deras. Jadi meski kita enggak dibawah air terjunnya,yakni berada di radius beberapa meter saja, sudah basah kuyup. Jadi, pelajaran untuk anda yang ingin ke sana: Bawalah baju ganti.
Untuk anda yang ingin refreshing, tempat ini boleh dijadikan alternatif. Selain udaranya yang sejuk dan dingin banget, airnya yang jernih, serta suasananya yang sepipun menjadikan tempat ini bisa menjadi tempat untuk ‘bertapa’ mencari ide. Mungkin saja, ide brilian lahir dari pertapaan dibawah air terjun. Hahaha!
Nah, jika anda tertarik, anda dapat menuju ke sana dengan perjalanan memakan waktu kurang lebih satu jam dari Bandung. Jalan yang ditempuh dengan rute dari Bandung ke arah Setiabudi, kemudian belok kiri setelah terminal Ledeng. Untuk lebih gampangnya, dipinggir belokan ada plang-plang kafe, seperti The Peak, Kampung Daun, Fame Stasion, dan lain-lain. (Maaf tidak menyebutkan patokan yang lebih dapat menjelaskan, maklum, dalam hal menghapal jalan, saya hanya lihat patokan, padahal kalo patokannya ilang gimana yah?).
Dari sana, anda hanya mengikuti jalan, sampai menemukan ’perduaan’, anda selalu pilih ke kiri, hingga anda melihat jurang disebelah kiri dengan nisan bertulisan besar-besar “Curug Cimahi”. Lalu, anda parkir disebelah pintu masuk yang dipenuhi para angkot yang parkir di jejeran warung kaki lima. Untuk masuk ke Curug Cimahi ini, anda juga tidak perlu merogoh kocek dalam-dalam, karena harga tiket masuknya hanya Rp 3.000/orang saja.
Namun, untuk menuju ke bawah air terjunnya, anda harus menuruni anak tangga yang cukup banyak! Apalagi saat hendak pulang, karena posisi anda mengharuskan naik tangga yang cukup panjang dan curam. Tapi semua itu akan terbayar saat anda tiba di bawah, menikmati panorama nan indah, dan airnya yang dingin. Nah, tunggu apalagi, coba datang ke sana, dan rasakan sensasi air terjun yang menyenangkan dan membawa kedamaian!